Filed under: Uncategorized
Kadang, semua itu tak cukup! Berkali ketika dia merasa sangat goyah, dia akan lari dari kehidupannya sejenak. Melaju terbang diatas mesin, menguras air mata, memaki dunia, dan menjajal semesta. Ya! Dia kabur sesaat dari lilitan segala benang kusut kehidupannya. Tidak! Dia bukan penyendiri, alaminya dia adalah orang yang memiliki banyak teman dan sahabat. Sahabat-sahabatnya juga selalu ada untuknya untuk berbagi. Entahlah, seringkali dia merasa dirinya sangat kotor dan banyak dosa yang membutuhkan penyucian besar-besaran untuk mengembalikan kesegarannya. Tapi seringkali pula dia merasa dengan keakuannya bahwa ‘Hei, aku bukanlah satu-satunya yang melakukan kesalahan! Coba lihat siapa yang lari dari kenyataan! Coba lihat siapa yang selalu menggantungkan diri dan butuh pada sesuatu yang pasti! Lihat siapa yang sombong dan meninggalkan orang yang sudah mempercayainya! Aku tidak seperti itu!’ Ya, dia tidak seperti itu! Dia merasa bahwa dia hanya menjalani kehidupan ini dan menerima apa adanya! Oh, kalau begitu dia sombong? entahlah!
Satu hal yang pasti, pergolakan jiwa yang dialaminya selama ini masih belum dimenangkan nya dengan nilai sempurna. Ada kala, dia merasa terjatuh lagi dan meluncur jauh ke dalam jurang hitam. Walau ada kala juga dia merasa dapat melambung sangat tinggi melampaui bintang.
Luncuran tajam kembali ia rasakan beberapa minggu ini. Ketika ia paksa matanya untuk terbuka lebih lebar untuk menyadari bahwa ia sekarang sendiri melanjutkan hidup bersama kekasih mungilnya. Dia goncangkan tubuh jiwanya agar bangun dan bangkit mengatasi segala masalah yang ia hadapi saat ini. Tapi, kenyataan kadang terlalu pahit untuknya. Kadang, ia merasa ingin lari…lari menjauh dan melemparkan semua ini.
“Apa yang terjadi Ni? Kenapa lo mesti kabur?” Tanya sahabat batinnya khawatir.
“Gw ga tau. Gw ngerasa hidup ini sedang payah buat gw.” Jawabnya sambil tersenyum malu. Ya! Dia malu, sahabatnya ini mampu membaca dirinya sejelas kaca.
“Kalo lo lari dari semua ini lo pikir lo akan ngerasa lebih aman?”
“Mana gw tau?!” Jawabnya judes.
“Lo masih mau dengerin gw?
“Tergantung…”
“Tau ga, lo itu masih belum ngerasa yakin dengan diri lo sendiri. Lo masih ngerasa perlu bergantung sama seseorang. Lo kehilangan keyakinan diri lo dan parahnya lo menyalahkan orang lain padahal sebenarnya semua ada di tangan lo. Lo yang bakal bisa ngatasin semua masalah lo. Tapi lo ga mau terima tanggung jawab ini kan? Coba tebak, lo mesti bangun! Dewasa dong! Lo mulai deh jaga diri sendiri dan anak lo! Lo harus bisa bergantung pada diri sendiri!”
“Terserah lo deh. Emang lo pikir mudah? Lo ga lihat gimana gw jambak kepala gue sendiri biar bisa tegak berdiri? Lo ga lihat gw pontang panting kesetanan menghidupi diri dan anak gw, lalu lo ga lihat gw juga mesti bisa menyelesaikan masalah yang ditinggalin masa lalu buat gw? Lo ga liat?”
“Lihat!”
“Tau ga lo tuh nyebelin banget!”
“Tau”
“Baguslah, thanks banget deh. Tapi lo tau kan gw berusaha?”
“Iya! You have to be as strong as you can and more!”
Dia selalu berharap pada saat-saat seperti ini nanti akan selalu ada sahabat batinnya yang menjadi sandaran keresahannya. Tidak! Dia tidak akan menjadi lemah! dia akan jadi pribadi yang tangguh. Tapi bukan juga berarti dia dapat sendiri menghadapi bentangan dunia ini! Suatu kala ketika dia sudah berani menarik salah satu ujung benang itu dengan uluran yang tegas dan yakin maka dia akan dapat menguraikan benang kusut dalam dirinya. Tidak mudah memang! Aku berdoa semoga dia mampu menggenggam erat nuraninya sampai saat itu tiba.