Jengdyanee’s Weblog


BENANG KUSUT
February 6, 2008, 9:09 am
Filed under: Uncategorized
Beberapa hari ini terasa berbeda untuk seseorang. Entah apa yang menggantung dalam pikiran dan rasanya. Tampak olehnya segalanya terpotong ditengah-tengah dan tidak tersambung dengan sempurna karena tertindih oleh untaian pikiran yang lain. Semua terlihat seperti tumpang tindihnya benang rajut warna-warni. Parahnya, dia tidak berani menarik salah satu benang itu karena semua benang  akan langsung kusut dan tak akan mudah untuk dipilah lagi. Entah mengapa dia gamang untuk merenggutkan pikiran-pikiran itu? Dulu dia adalah orang yang sangat spontan dan penuh keyakinan. Beberapa waktu ini dia tampak sangat limbung. Walaupun tak semua orang dapat melihatnya. Ya! Umumnya orang disekitarnya tak sadar apa yang terjadi dengannya. Dia selalu tampil ceria di depan semua orang, dia masih mampu menghibur dan menenangkan sahabat dan rekannya. Dia selalu memasang senyum lebar dan bercanda tiada habis sepanjang hari. Menghibur kesayangan kecilnya, menemaninya, meski seringkali bocah polos itu menyadari ketika ibunya sedang merasa tidak nyaman. Dia tak pernah menunjukkan rasa terdalamnya pada siapapun. Bukan! Bukan tak percaya dia padamu, tapi dia merasa tak mampu menguliti dirinya sendiri di depanmu. Tak terbayangkan, bagaimana ia mengawali hari dengan tarikan napas dalam dan panjang untuk melapangkan rongga jiwanya, menyingkirkan segala gundah, khawatir, takut, resah ke ujung-ujung kolom nuraninya. Dia yakinkan diri setiap saat bahwa dia akan baik-baik saja. 

Kadang, semua itu tak cukup! Berkali ketika dia merasa sangat goyah, dia akan lari dari kehidupannya sejenak. Melaju terbang diatas mesin, menguras air mata, memaki dunia, dan menjajal semesta. Ya! Dia kabur sesaat dari lilitan segala benang kusut kehidupannya. Tidak! Dia bukan penyendiri, alaminya dia adalah orang yang memiliki banyak teman dan sahabat. Sahabat-sahabatnya juga selalu ada untuknya untuk berbagi. Entahlah, seringkali dia merasa dirinya sangat kotor dan banyak dosa yang membutuhkan penyucian besar-besaran untuk mengembalikan kesegarannya. Tapi seringkali pula dia merasa dengan keakuannya bahwa ‘Hei, aku bukanlah satu-satunya yang melakukan kesalahan! Coba lihat siapa yang lari dari kenyataan! Coba lihat siapa yang selalu menggantungkan diri dan butuh pada sesuatu yang pasti! Lihat siapa yang sombong dan meninggalkan orang yang sudah mempercayainya! Aku tidak seperti itu!’ Ya, dia tidak seperti itu! Dia merasa bahwa dia hanya menjalani kehidupan ini dan menerima apa adanya! Oh, kalau begitu dia sombong? entahlah!

Satu hal yang pasti, pergolakan jiwa yang dialaminya selama ini masih belum  dimenangkan nya dengan nilai sempurna. Ada kala, dia merasa terjatuh lagi dan meluncur jauh ke dalam jurang hitam. Walau ada kala juga dia merasa dapat melambung sangat tinggi melampaui  bintang.

Luncuran tajam kembali ia rasakan beberapa minggu ini. Ketika ia paksa matanya untuk terbuka lebih lebar untuk menyadari bahwa ia sekarang sendiri melanjutkan hidup bersama kekasih mungilnya. Dia goncangkan tubuh jiwanya agar bangun dan bangkit mengatasi segala masalah yang ia hadapi saat ini. Tapi, kenyataan kadang terlalu pahit untuknya. Kadang, ia merasa ingin lari…lari menjauh dan melemparkan semua ini. 

“Apa yang terjadi Ni? Kenapa lo mesti kabur?” Tanya sahabat batinnya khawatir.

“Gw ga tau. Gw ngerasa hidup ini sedang payah buat gw.” Jawabnya sambil tersenyum malu. Ya! Dia malu, sahabatnya ini mampu membaca dirinya sejelas kaca.

“Kalo lo lari dari semua ini lo pikir lo akan ngerasa lebih aman?”

“Mana gw tau?!” Jawabnya judes.

“Lo masih mau dengerin gw?

“Tergantung…”

“Tau ga, lo itu masih belum ngerasa yakin dengan diri lo sendiri. Lo masih ngerasa perlu bergantung sama seseorang. Lo kehilangan keyakinan diri lo dan parahnya lo menyalahkan orang lain padahal sebenarnya semua ada di tangan lo. Lo yang bakal bisa ngatasin semua masalah lo. Tapi lo ga mau terima tanggung jawab ini kan? Coba tebak, lo mesti bangun! Dewasa dong! Lo mulai deh jaga diri sendiri dan anak lo! Lo harus bisa bergantung pada diri sendiri!”

“Terserah lo deh. Emang lo pikir mudah? Lo ga lihat gimana gw jambak kepala gue sendiri biar bisa tegak berdiri? Lo ga lihat gw pontang panting kesetanan menghidupi diri dan anak gw, lalu lo ga lihat gw juga mesti bisa menyelesaikan masalah yang ditinggalin masa lalu buat gw? Lo ga liat?”

“Lihat!”

“Tau ga lo tuh nyebelin banget!”

“Tau”

“Baguslah, thanks banget deh. Tapi lo tau kan gw berusaha?”

“Iya! You have to be as strong as you can and more!”

Dia selalu berharap pada saat-saat seperti ini nanti akan selalu ada sahabat batinnya yang menjadi sandaran keresahannya. Tidak! Dia tidak akan menjadi lemah! dia akan jadi pribadi yang tangguh. Tapi bukan juga berarti dia dapat sendiri menghadapi bentangan dunia ini! Suatu kala ketika dia sudah berani menarik salah satu ujung benang itu dengan uluran yang tegas dan yakin maka dia akan dapat menguraikan benang kusut dalam dirinya. Tidak mudah memang! Aku berdoa semoga dia mampu menggenggam erat nuraninya sampai saat itu tiba.    



aku lagi bosan dengan keadaanku
January 29, 2008, 3:54 am
Filed under: Uncategorized

kenapa hidup tampak begini begini saja???

ya, aku kurang bersyukur!!!

memang, aku sedang bingung?!?

banyak hal yang kurasa!

aku selalu andalkan rasa?!

ya memang aku dan rasa adalah satu!!

cinta, benci, sayang, butuh, sebal adalah rasa??

bingung juga rasa…!!

ya… kebingungan yang menarik!!!



memoir seorang perempuan
January 28, 2008, 10:37 am
Filed under: Uncategorized

dilahirkan oleh seorang perempuan juga

lahirnya merupakan karunia

ia satu-satunya  perempuan yang terlahir dari perempuan pertama

kesayangan sang ayah

penuh perhatian pada kekasih ibunya itu

perempuan ini merawat dan mengasihi ayah, kakak, dan adik-adiknya

semuanya lelaki

sejak ibunda pergi selamanya

sang putri yang mengambil alih singgasana dan mengelola negeri lelakinya

keceriaan remaja berganti keseriusan dan kesungguhan seorang wanita

diam dan tak ada canda karena semua harus ditangani dengan serius

suatu hari tibalah seorang lelaki baru dalam hidupnya

menarik…sungguh menarik…si dia ini…

lelaki ini lelaki tunggal dalam keluarganya

wah menarik…benar..benar…menarik

karena semakin tertarik lelaki dan perempuan ini memutuskan untuk berbagi

hidup mulai dijalani berdua

bersentuhan dengan mertua

cerewet bertemu diam

salah mengerti bertemu kekakuan

saling sayang tak tersampaikan

hidup berlanjut

tugas putri makin meluas

ayah dan saudara kandung

suami, mertua dan ipar

naik turunnya hidup terus berlaku

sampailah pada suatu titik

perempuan ini terdiam semakin dalam

layu karena derita tak terungkapkan

cecaran luka badani tersokong yang terjiwai

ambruk dalam desahan terkulai lelah

coba bertahan demi dua jiwa baru tersayang

dua lelaki kecil yang pernah dikandungnya

tapi takdir berkata lain

tertinggal sudah semua galau dan gundah

menyerah dalam kedamaian

________________________________________________

Selamat jalan Mbak, semoga kau selalu dalam damai…  Terima kasih aku sempat mengenalmu…



review buku
January 25, 2008, 10:16 am
Filed under: Uncategorized
Category: Books
Genre: Literature & Fiction
Author: Yasunari Kawabata
penerbit: Jalasutra, September 2003

Kisah diawali dengan keberangkatan Oki Toshio menuju Kyoto dengan alasan untuk mendengar langsung dentang lonceng sebuah kuil kuno pada malam tahun baru. Sementara ingatannya terus kembali pada seorang perempuan yang sudah sekian tahun tak ditemuinya. Saat ini dia menjalani hidup di sebuah tempat di Kyoto. Kenangan-kenangan itu mengaburkan alasan yang sebelumnya dia yakini. Apakah sebenarnya dia pergi ke Kyoto dengan alasan utama untuk menemui sang kekasih gelap.Kebimbangan yang menguasai akhirnya dimenangkan oleh alasan romantis itu. Pertemuan keduanya ditampilkan sangat kental tradisi Jepang yang menampilkan perempuan-perempuan santun digambarkan dengan cantik. Latar-latar kejadian yang ada cukup jelas sehingga membuat kita terlibat dan paham alur.
Diantara gambar-gambar realita yang dialami tokoh saat itu, Kawabata berhasil memunculkan kenangan yang hilir mudik tanpa membuat kisah ini rancu dan membingungkan. Justru memberikan cerita yang lengkap dan runtut.
Melalui novel ini terpapar jelas bagaimana seorang perempuan merasakan, mengalami dan bertahan menghadapi cinta yang betul-betul indah sekaligus sedih, berbunga-bunga sekaligus rumit.
Kawabata menampilkan kisah sebuah perselingkuhan secara tidak umum. Tanpa berusaha mengadili siapa yang menang atau kalah tapi justru nampak disana sisi murni dari sebuah hubungan yang dianggap tak layak itu.
Cinta memberikan arti yang sangat dalam untuk masing-masing tokoh. Betapa terkadang cinta dapat berkolaborasi dengan marah, benci, dendam dan obsesi.
Cerita Keiko; murid sekaligus pasangan lesbian Otoko Ueno, sang perempuan idaman lain; yang memiliki obsesi untuk membalaskan dendam Otoko demi cintanya pada sang guru. Kisah yang cukup ganjil apalagi ditambah dengan caranya yang bisa mendirikan bulu roma, Keiko bertekad untuk menakhlukkan Oki dan Taichiro (anak lelakinya) dengan sikapnya yang polos dan nekat. Otoko sendiri karena kenangan cintanya pada Oki tak pernah padam, ia berusaha keras untuk mencegah kenekatan Keiko.
Akhir yang menekan rasa cukup menjadi klimaks yang patut dialami oleh pembaca.
Novel ini sangat layak didedikasikan untuk para perempuan yang selalu tegar menghadapi kehidupan. Juga para lelaki yang bisa jadi menemui atau bahkan mengalami keadaan seperti ini. Karena novel cinta ini menggambarkan dengan cukup jelas sikap seorang lelaki saat harus menghadapi hidupnya dan berbagai pilihan yang perlu diambilnya!



Trauma
January 18, 2008, 8:19 am
Filed under: Uncategorized

Jam 3 pagi, 17 Januari 2008

“Ibu…ibu… bangun…”

“Naon de’?”jawabku agak kesal karena baru berani memejamkan mata beberapa lama setelah memberikan obat turun panas jam 12 tadi dan menunggu reaksi obatnya 1 jam kemudian.

“Ibu bangun…”

“Kenapa? Dani mau minum susu? Pipis?”

“Ngga… ini tutup…silau..” katanya, ketika kubuka mata aku melihatnya menutupi muka dengan bantal.

“Kenapa Dan? Badannya panas lagi?”

“Iya…ini dingin…”

Kucium keningnya untuk memastikan suhu badannya naik. Dan, ternyata panas sekali. Ketika kupegang kaki dan tangannya yang dingin dan basah aku langsung panik karena itu bisa membuatnya mendapat serangan step seperti dulu. Dani sendiri mulai pucat dan gemetaran dan sebentar-sebentar tersentak seolah ada yang mengagetkannya. Aku selimuti tubuh mungilnya dengan sarung, selimut tebal, kutumpuk bantal dikakinya dan kuhalangi sekeliling kepalanya dengan bantal dan boneka. Lalu kupeluk dia sambil tanganku mengompres kening dan menggosok kakinya agar kembali hangat. Setiap kali ia tersentak ia akan menangis..

“Ibu… mau Ibu…” dengan wajah takut.

“Jangan takut sayang… ibu disini…” kataku berusaha menenangkan walaupun sebenarnya aku sendiri sudah panik dan sangat ketakutan. Kami hanya berdua di rumah dan aku khawatir dia akan mengalami lagi serangan kejang seperti yang dialaminya tahun lalu. Ya Allah aku bingung sekali, aku ingin tenang tapi disisi lain aku tidak mau menyesal jika terjadi sesuatu dengannya. Ketika kulihat dia semakin tidak nyaman aku tanya Dani,

“De, kita telepon Bude aja?”

“Iya…” katanya lemah.

Akhirnya kutelepon Budenya yang kebetulan tinggal satu kompleks dengan kami. Kami dijemput sekitar 15 menit kemudian.

Dani memang anak yang sangat istimewa buatku. Dia lahir diliputi tanda kekuasaan Allah. berbagai kelainan sudah dia alami ketika berada dalam rengkuhan rahimku. Dia dipaksa untuk lahir pada usia kandungan 7 bulan 2 minggu dengan ultimatum dari dokter yang menangani kehamilanku. Sebuah diagnosa yang menghabiskan seluruh harapan dan do’a kami. Harapan hidup janinku diluar kandungan adalah 0%.



Secuil Hidupku
January 16, 2008, 11:01 am
Filed under: Uncategorized

Hidup manusia memang tidak bisa disangka-sangka apalagi diatur seperti rencana dan keinginan kita. Banyak hal dalam hidupku yang menjadi titik balik dan merupakan awal untuk meloncat ke langkah hidupku selanjutnya.
Setback pertama adalah kematian bapakku ketika aku berada di usia yang sedang sangat membutuhkan dukungan, lagipula, aku mengidolakan bapak dan beliau adalah sahabat terbaikku. Aku nangis, aku hancur, aku hampir tidak mau sekolah lagi. Aku masuk kuliah hanya karena tuntutan dan ‘tendangan’ dari Ibu dan kakak-kakakku. Aku bahkan sempat sakit fisik akibat beban psikologisku. Pulang sekolah aku sakit perut (serasa diremas tangan besi dan dipelintir) yang membuatku black out di depan pintu dan harus diseret kakakku ke tempat tidur, diolesi balsam panas sekujur perut dan punggung sampai aku sadar sendiri beberapa menit kemudian. Dan, itu terjadi setiap hari selama kurang lebih 3 bulan! Periode ini kulalui dengan 2 kematian lagi dari orang-orang terdekatku. Kuliah kumulai dalam gelap, ‘aku tidak nyata’ saat itu, sampai aku berjuang untuk muncul ke permukaan lautan gelap itu. Orang baru bangkit ini menjadi sangat keras dengan diri sendiri, cuek, temperamental, tegar dan sok jagoan. Bekal karakter baru ini membawaku berhasil melewati masa awal dewasaku dengan sukses, aku menjadi perempuan mandiri, smart dan percaya diri. Di sisi lain, entah karena tuntutan alam bawah sadar akan kasih sayang dan perlindungan yang hilang, aku selalu mencarinya pada orang orang yang lebih senior dariku.Aku mudah sekali dekat dengan orang yang memiliki jarak usia lebih tua termasuk ketika pacaran. Aku selalu lebih nyaman dan nyambung dengan pria lebih tua dibandingkan dengan yang seumuran apalagi yang lebih muda. Rekorku, aku pernah punya kekasih yang usianya hampir 10 tahun diatasku.
Pencarianku terus berlanjut tanpa kusadari.
Akhirnya aku menikah dengan seseorang yang berbeda usia 5 tahun (lebih senior tentunya) denganku. Kami dikenalkan oleh seorang sahabat sekaligus mentorku.  Kesan pertama dia pendiam dan sabar. Walaupun tidak ada sparkling chemistry aku setuju melanjutkan hubungan dengannya. Sepuluh bulan perkenalan akhirnya kami menikah.
Seperti umumnya, tahun pertama kulalui dengan harapan tinggi dan belajar mencintainya, menyayanginya, berlindung dan bergantung padanya. Tepat seperti kesan awal dia memang sangat pendiam dan sabar, dia tidak pernah marah apapun yang kulakukan menguji kesabarannya. Ada banyak konflik nyata dan terutama batin yang sudah aku alami tahun pertama ini, antara aku dan dia dan keluarganya. Tapi aku yakin bisa melaluinya dan akan dapat mengubah keadaan ini menjadi yang terbaik untuk keluarga baruku ini.
Tahun-tahun berikutnya berlalu dengan berbagai masalah dan kejadian yang muncul.  Naik turunnya keadaan ini aku hadapi dengan  mata terpejam dan dan harapan tinggi untuk memenangkan  ‘pergulatan’ ini. Dukungan dan kerjasama dari pasangan ternyata tidak sesuai dengan harapanku. Dia semakin diam dan pasif bahkan untuk mengambil keputusan sederhana yang berhubungan dengan kepentingan rumah tangga kami.
Barangkali berbagai tekanan inilah yang membuat pribadiku meledak berkeping-keping. Pribadi yang sudah sangat banyak menyesuaikan diri dalam pernikahan ini rupanya tak sanggup lagi menahan ‘injakan’ yang terus menekan. Aku mulai limbung dan terkurung dalam bayang-bayang yang berkelebatan sangat cepat.  Alam bawah sadarku berteriak mencari pertolongan.
Saat itu terjadi, beruntung, seseorang sudi mengulurkan jiwanya untuk menyangga bahuku dan menegakkan diriku. Sang penyelamat ini rela kumaki dan kutumpahi dengan segala keluhan yang seringkali membuatnya kerepotan.
Setback yang sangat masif ini kualami di tahun kelima pernikahan, tepat diusiaku menginjak 32 tahun. Dan pada bulan seharusnya kami merayakan anniversary kelima pasanganku pergi dari rumah.
Kondisi pribadiku yang masih acak-acakan ditambah dengan kenyataan perginya orang yang pernah kuharap sebagai pembimbing membuatku makin terseok. Akhirnya dengan dukungan moral intensif dari sahabat baruku ini aku mencoba mengurai dari dasar pribadiku. Ya! Fokusnya  sekarang adalah  diriku. Kucoba cari siapa aku dulu, mengapa terjadi perubahan-perubahan dalam hidupku, baik-buruk, sebab dan akibatnya. Kuakui ini sangat sulit kulewati, tapi aku yakin aku bisa menghadapi dan berhasil memenangkannya lagi seperti dulu.
Terima kasihku yang tak terhingga untukmu yang dengan tulus hati mau menjadi sahabat jiwaku.Tanpa tendensi apapun rela membuka telinga dan hati untuk mendengarkan gejolakku. Membukakan mataku untuk meraih kembali hidupku. Memintaku untuk kembali membuka diri dan berbagi dengan sahabat dan keluarga. membantu memfokuskan hidup untukku dan anakku. Aku mungkin telah melukai perasaannya dan mengganggu kehidupannya dengan segala keluh kesah ini. Tapi aku bangga dan hormat padanya karena mampu berada bersama kekuatanku saat ini dengan bekal kasih tulusnya.
Satu lagi pelajaran berharga yang aku dapatkan; hanya dengan menjadi pendengar untuk seseorang yang sedang sangat membutuhkan dapat menjadi hadiah yang sangat indah. Thank you for being the wind beneath my wings!!



PEKERJAANKU II
January 16, 2008, 2:47 am
Filed under: Uncategorized

ketika aku sudah berubah menjadi kanak-kanak kembali aku terserang sebuah penyakit yang tak tertanggungkan rasanya. Ya! Aku jatuh dan mencintai berjenis-jenis makhluk kecil yang dinamakan anak-anak dan balita. Mereka memang berjenis-jenis kelakuannya, sifatnya dan pembawaannya. Aku merasa sangat kompak dengan mereka. Aku tanpa sungkan akan berpelukan, bergulingan dengan mereka saat sedang bermain. Lupa akan semua rasa canggung, jaim, apalagi takut pada mereka. Menyenangkan sekali aku menjalani bertahun-tahun sejak itu bersama calon bintang yang sinarnya sangat brilian itu. Bersama mereka yang berasal dari beberapa bangsa membuatku banyak sekali belajar untuk saling memahami dan mendalami masing-masing karakter. Ini sangat memudahkanku memahami dan berinteraksi dengan orang tuanya juga lho. Anak India yang pada umumnya sangat ketat aturan dan dididik dengan keras. Lalu ada anak Korea yang gaul abis dan orang tuanya easy going juga. Anak Jepang yang santun dan lembut. Anak Taiwan yang selalu ceria, lantang dan terus terang untuk segala sesuatu. Dan, anak-anak lain baik bule maupun lokal dengan berbagai karakter yang lucu-lucu. Hampir tiga tahun aku bersama mereka di sekolah itu membuatku semakin mantap menentukan pilihan untuk menghabiskan hidupku bersama anak-anak.

Di tahun terakhir aku di Nehru School aku mendapat tawaran dari seorang kolega untuk ikut serta membidani sebuah sekolah dasar baru yang didalangi oleh seorang pemilik TK yang cukup ternama di kota ini. Memang aku sebelumnya sudah ada interaksi dengan TK beliau karena aku adalah salah satu tutor di tempat kursus bahasa yang berlokasi di TK tersebut. Makanya aku tertarik untuk menerima tawaran itu. Karena aku sangat suka tantangan maka aku serasa menemukan celah menantang untuk di eksplorasi deh. Tunggu cerita lengkapku selanjutnya yaaaa…



Mencuri Waktu
January 13, 2008, 5:10 am
Filed under: Uncategorized

Wah… berhasilll!!! Aku berhasil mengalahkan kemalasanku. Tadinya aku sudah akan log out dari blog dan memutuskan tidak jadi posting baru. Tapi ternyata… 7,3 menit ini sangat menantang untuk kupakai menulis sesuatu. Walaupun aku ga yakin apa yang akan kutulis tapi paling tidak aku melatih kordinasi pikiran dan tanganku untuk menulis tanpa jeda. Aku sebnenarnya agak kesal tadi karena dari awal sampai hari ini aku selalu saja kesulitan membuka blog aku ini. Karena masih agak gaptek dengan WordPress. Mudah-mudahan nanti aku akan biasa juga dan dapat memulai dengan lebih cepat. Ya! memang segala sesuatu perlu waktu dan proses. Seperti juga mengapa aku suka membaca dan menulis. Proses yang memakan waktu seluruh hidupku yang sudah mencapai 32 tahun ini memang sangat menarik dan membahagiakan. Aku selalu menikmati tantangan dan desiran manis dalam diriku setiap melakukan hubungan mesra dengan buku dan tulisan. Sungguh intim dan memberikan kepuasan yang sangat menggairahkan. Aku menjadi tokoh dalam setiap kisah dan aku mengisi seting suasana cerita itu. Jika aku sedang bersama Harry Potter di Hogwarts jangan coba temukan aku di rumahku. Aku mungkin sedang melatih mantra sihirku bersama profesor Snape!



PEKERJAANKU
January 12, 2008, 10:27 am
Filed under: Uncategorized

Coba kuingat apa saja yang sudah aku lakukan di masa produktif usia dewasaku ini.  Aku mulai menjadi perempuan pekerja secara profesional ketika memasuki masa kuliah. tentunya sebelum itu aku sudah mengalami menjadi asisten dan administrator rendahan di warung sembako ibuku, bekerja pula di bagian cleaning service di rumah orang tuaku, sayangnya karena aku tak telaten urusan dapur, ibu bosku memutasiku ke bagian kurir dan purchasing. ketika ketiga kakak gadisku sibuk membantu ibuku memasak akulah yang bertugas memenuhi segala keperlian mereka, bolak-balik ke warung dan pasar untuk membeli bawang, merica, garam, daging, kertas bungkus dan sederet lain daftar belanjaan yang membuatku berpikir kala itu, hidup yang sungguh tidak efektif.. Mengapa? Coba, apa susahnya tinggal membeli saja yang siap saji? Alasan mereka sambil menyemburkan kata-kata sadis padaku.. DASAR anak malas… makanan warung? Mahal TAUUU!! Kubilang sambil melenggang… Yaaa…itung-itung bayar jasa toh buat yang masaknya…

Tapi jangan disangka buruk dulu apa yang kusebut pengalaman kerjaku diatas ya.. Biarpun pengalaman itu tak dapat kucantumkan dalam kurikulum vite, mereka sungguh memberikan manfaat padaku.. keuletan, kekuatan karakter dan keyakinan diri membuatku memiliki bekal melangkah ke dunia profesional.

Kuawali karirku dengan menjadi penerjemah paruh waktu, di era ini aku harus sangat gigih, kuadukan antara keinginan untuk segera menyelesaikan kuliah dengan keinginan untuk mendapatkan kepuasan dan uang hasil keringatku sendiri. Bukannya aku sok pandai dan berambisi ingin selesai kuliah secepatnya. Aku ingin segera selesai karena bagiku waktu sangat cepat berjalan dan aku pasti akan sangat bosan berada di masa yang sama untuk waktu yang panjang. Ohhh.. aku sangat menyukai materi kuliahku kok! Sastra dan ilmu bahasa… wah mudah dan menarik bagi seseorang yang tak mampu mengerti apa itu vektor dan perpangkatan dalam matematika dan ilmu pasti lainnya. Mengenai kepuasan mendapatkan income pribadi sudah jelas itu akan menjadi kebanggaan bagiku. Aku rela membagi hariku menjadi berkeping-keping untuk menuntaskan semuanya.

Pagi : Jam 10 kuliah sampai 1 siang.

Siang : Makan siang nasi putih dan tempe/tahu yang digoreng dengan minyak baru oleh ibu warung (beliau hapal aku alergi akut terhadap banyak unsur makanan dan juga udara). Lalu, tergopoh-gopoh menuju tempat aku memberikan les apalagi kalau aku harus menggantikan teman tutor yang absen untuk mengajar kelasnya jam 2 siang.

Malam : Jam 6 petang ikut kuliah malam ngejar SKS extra sampai jam 9 malam. Sampai rumah jam 10… Yuppp.. siap dengan kopi dan sigaret… ngebuuuul, ngejar setoran terjemahan sampai subuh karena harus selesai hari Jum’at berikutnya. Menyempatkan tidur beberapa jam sebelum harus bangun lagi jam 9 dan memulai lagi siklus hidupku dari pagi ke pagi lagi. Mandi dan berdandan sebelum kuliah? Emmmm… ngga sempet tuh! Sampai tibalah hari setoran… terjemahan sampai pada klien yang bersangkutan dan… Aku?? kipas-kipas lembaran uang puluhan ribu…  Bagiku.. itu adalah pencapaian klimaks yang penuh ekstasi.

Lalu, aku memutuskan untuk memperbaiki hidup dengan menuju ke kota baru… ya… aku memilih Bandung untuk melanjutkan hidupku. Aku sangat tertarik dengan kota cantik ini. Aku langsung betah dan terbukti aku malas pindah sampai 10 tahun ini. Awal profesiku disini seperti sebelumnya.. menjadi kutu loncat di berbagai tempat les privat dan lembaga di seluas kota. Pekerjaan mapanku yang pertama di kota ini adalah menjadi seorang guru Play group di sebuah sekolah internasional. jangan menganggapnya sebagai sesuatu yang menyenangkan ya… Kumulai tugas mengajarku dengan hati gamang karena sumpah demi Allah aku takut pada ANAK BALITA? Aneh?? Ya!! Aku takut membuat mereka nangis, aku tidak pernah mengasuh adik atau siapapun karena aku bungsu bahagia dan merdeka di keluargaku.  Lingkungan kerjaku juga tidak terlalu membantu mengatasi fobiaku ini. suasana individualis cukup kental disini. Ada seorang madam sepuh yang menjadi pembimbingku kala itu. Beliau adalah seorang lady yang sangat keras pada dirinya dan juga pada asuhannya. Aku dibuatnya menangis setiap malam demi menguatkan pribadiku terjun di dunia baru ini. Kekerasan didikannya membuatku melesatkan ego dan kemampuanku untuk membuktikan AKU BISA! Aku mampu memerangi kengerianku menghadapi bayi-bayi itu sampai akhirnya aku menjadi kanak-kanak lagi!



Aku Ini Orang Bebas II
January 12, 2008, 9:45 am
Filed under: Uncategorized

Mengapa aku berada disini saat ini??

Jika kuingat sejarah dan hidup yang sudah kualami selama 32 tahun ke belakang… aku dipenuhi rasa malu sekaligus bangga, sedih dan suka, bahagia dan nestapa…  Mengapa aku merasakan semua itu?? Mungkin karena aku memang manusia biasa yang sangat wajar merasakan segala rasa. Namun aku akan membuatnya istimewa. Mengapa? Karena, hanya aku yang mengalami semua keadaan lalu, tak mungkin seorang lain mengalami hal yang sama denganku. Aku mungkin bukan orang yang istimewa diantara banyak orang yang aku kenal. Tapi aku sangat istimewa untukku sendiri. Mengapa? Karena aku berulangkali berhasil memenangkan pergulatan di dalam diriku sendiri, aku berhasil meraih apa yang aku harapkan, aku berhasil memberikan manfaat untuk orang lain. Aku berhasil membuat diriku berdiri tegak diatas kekuatanku sendiri. Aku menjadi orang yang merdeka, mampu dan mau membuat segala keputusan untuk diriku sendiri, mau dan mampu menetapkan pilihan lalu mampu dan sanggup menerima segala timbal baliknya. Begitu exist nya kah diriku ini? Begitu narsis dan bangga dirinyakah aku ini? TIDAK… Aku sanggup menegakkan rumah jiwaku karena banyak sekali interaksi tak terhitung yang sudah aku lakukan dan aku alami. Kualami dengan bersentuhan hati, berpegang tangan, bertabrakan dengan manusia lain di sekelilingku. Kulakukan segala sesuatu yang memang perlu dan diharuskan perlu untuk diriku melalui berbagai peristiwa yang membuatku jatuh bangun dan jatuh lagi. Babak belur dan berdarah-darah. Tak apa… aku masih sanggup sampai kapanpun berdiri tegak mempertahankan benteng diriku dengan lindungan dan restuNya. Bukan… aku bukan membangun benteng untuk melindungi dan menutupi diriku dari kerasnya perang di dunia nyata. Namun…aku menegakkan benteng ini untuk menguatkanku juga menyimpan amunisi dan logistik yang aku perlukan untuk menuntaskan semua peperanganku sampai suatu saat nanti sang Komandan meneriakkan MUNDURRR… dan memerintahkanku berlindung dalam bunker yang sejuk dan tenang berselimut kafan!